Acara liburan akhir tahun sudah rutin diisi dengan liburan ke luar kota, cuma waktunya belum pasti tanggalnya. Nunggu klop waktu libur bareng, biar nggak ada pikiran selama dalam perjalanan.
Akhirnya disepakati perjalanan dilakukan hari Minggu pagi tanggal 22 Desember 2013. Sehingga tanggal 21 Desember bisa bermalam minggu di Jakarta tempat tinggal kami. Karena rencana berangkat pagi hari nggak papalah tidur agak malam, dengan pikiran ada waktu tidur yang cukup. Kalau nggak salah hari itu kita ke PARC 19 Bistro Terrace Kemang, menghabiskan malam Minggu disana. Dari Kemang kita pulang kerumah di Jakarta Barat nyampek jam 10 an lebih dikit, dan langsung bersiap untuk istirahat, karena besok tugas sebagai “pilot” perjalanan. Kita sekeluarga berempat plus “Bobby” si kucing jantan anggora juga ikut.
Sedang nyenyak-nyenyaknya tidur jam 2 malam dibangunin oleh “Kapolda” katanya “ayo kita berangkat sekarang”. Karena kaget dan nyawa belim menyatu saya bilang “ngapain sekarang, besok pagi aja”. “Kapolda” bilang “nggak-nggak sekarang, ayo-ayo bangun”. Dari pada suasana tidak “kondusit” dengan bersungut-sungut saya bergegas pergi mandi :(.
Setelah semua anggota siap (termasik “Bobby”), kita cabut dari rumah Jam 2 an lewat dikit pagi. Tujuan kita adalah mau ke Bali tapi singgah ke Malang, orang kita semua ada di Malang. Rutenya adalah lewat Pantura : tol Cikampek, Indramayu, Cirebon, Pemalang, Kendal, Semarang, Kudus, Rembang, Tuban, Lamongan, Gersik, Sidoarjo, Gempol, Pasuruan, Lawang, dan Malang.
Peta Rute JKT-Bali-JKT
Seperti biasa pada masa sesi liburan panjang Pantura padat merayap, rute pantura dipilih karena berdsarkan pengalaman waktu tempuh lewat pantura lebih cepat, dikarenakan jalan cukup lebar dan dua jalur, masing-masing jalur cukup lebar; ditambah banyak jalur tolnya misalnya jalur Tol Kanci – Pejagan, terus Tol Gersik – Pasuruan di Jawa Timur.
Kita sudah berpuluh-puluh kali ke Malang, mengingat dulu kita lama di Bandung, yang lebih banyak mengambil Rute Selatan ( Bandung, Tasik, Ciamis Kebumen, Purworejo, Jogja, Solo, Ngawi, Caruban, Kertosono, Pare, Pujon, Batu, dan Malang), karena setiap Lebaran pasti Pulkam ke Malang.
Kembali ke Rute perjalanan, begitu masuk Tol Kanci – Pejagan, keluar Tol Brebes jam 7 pagi waktu sarapan pagi, menunya Sate Kambing Muda plus Gulai Kambing pas untuk tambah energi. Perjalanan Brebes ke arah Semarang cukup lancar, karena hari Minggu dan tidak banyak Truk Gandengan di jalan; mungkin udah deket Natal kayaknya. Nyampek Semarang udah Siang (waktu Dhuhur). Co-Driver “Dhika”, dia sempet nyetir gantiin selepas Semarang sampek Rembang. Makan siang di Semarang. Tentu saja ada beberapa perhentian untuk isi bensi, buang air kecil dan kasik makan si “Bobbi” kucing angora yang juga ikut dalam perjalanan. Kita makan malam kalau tidak salah di Rembang, kita buru-buru ngejar waktu, karena berkejaran dengan stamina yang sudah mulai menurun. Untuk menjaga stamina kita pakai Coffee 78c, Coffee Nescafe, permen Kopiko, Niu Green Tea, Aqua dan tidak lupa obat gosok Counterpain.
Jalan memasuki Tuban selepas Rembang cukup keriting sehingga mobil tidak di pacu kencang dibawah 80 km/jam. Keceptan bisa dipacu jika penumpang terlelap tidur, jika masih ada yang terbangun akan banyak complaint, tidak enak lah, nggak bisa tidur, takut dll.
Memasuki Lamongan jalan cukup baik tapi masuk Gersik jalan sempit dan bergelombang. Masuk pintu Tol Gersik semangat terpacu lagi, karena bisa dipacu dengan kecepatan tinggi waktu itu jam 11 malam. Tol Gersik tersambung sampai Pasuruan. Dulu sebelum terjadi luapan Lapindo Tol ini tersambung sampai Gempol. Keluar dari Tol ke arah Gempol Jam menunjukkan jam 01.30 pagi. Jadi kita berkendaraan hampir 24 jam non-stop. Selepas Gempol karena tengah malam jalan “Lancar Djaya” sampai Lawang, Singosari dan akhirnya Malang, jam menunjukkan jam 03.00 pagi. Jadi kita 25 jam perjalanan non-stop. Sampai Malang kita bergegas beresin barng, setelah bersalaman dengan mertua, basa-basi sedikit kita cabut istirahat, tentu setelah sikat gigi dan bersihin badan. Tidak kebayang capeknya badan ini kita jalan terasa tidak menyentuh tanah (ngleyang atau melayang istilahnya)

Advertisements